Tempat tinggal tidak bisa dipungkiri menjadi satu kebutuhan yang bersifat mutlak. Keperluan papan ini semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang bermukim di perkotaan. Adapun beberapa faktor yang melatarbelakangi hal ini ialah karena alasan pekerjaan dimana kota besar dianggap sebagai area yang menjanjikan lapangan kerja memadai.

6 Langkah Bijak Jual Beli Tanah Guna Menghindari Penipuan

Di saat banyak orang mengadu nasib untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, keberadaan lahan pun menjadi indikator yang turut diperhitungkan. Tak hanya digunakan sebagai area untuk mendirikan pemukiman, pertokoan, tempat hiburan hingga pembangunan sarana untuk umum, tanah juga menjadi aset yang sangat berharga. Untuk itulah jual beli tanah menjadi hal yang sangat familiar.

Namun, tidak banyak orang mengetahui prosedur yang baik seperti apa. Mereka hanya menjalankan transaksi sesuai dengan pemahamannya. Padahal, entah itu menjual ataupun membeli tanah tidaklah sama dengan penjualan pada barang biasa.

Ciri fisik tidak cukup untuk membuktikan bahwa tanah tersebut telah berpindah pemilik yang sah. Jadi, tidak sekedar dinyatakan dengan kuitansi, dokumen penting yang serupa pun harus diurus hingga benar-benar rampung.

Nah, bagi anda yang berniat melakukan transaksi jual beli tanah, ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan agar terhindar dari penipuan.

1. Menyiapkan persyaratan

Isi dari ketentuan yang sifatnya wajib dipenuhi ini tak lain adalah dokumen yang lengkap. Bertujuan untuk memudahkan pembeli dan penjual dalam merampungkan proses administrasi.

a. Penjual

  • Sertifikat asli hak milik atas tanah yang dijual.
  • Kartu tanda penduduk.
  • Bukti atau kuitansi pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan.
  • Surat Persetujuan dari Suami/Istri bagi yang sudah berkeluarga (bisa memakai akta kematian kalau sudah meninggal).
  • Kartu keluarga

b. Pembeli

  • KTP
  • KK

2. Mendatangi Kantor Pejabat Pembuat Akta Tanah

Apabila berkas di atas sudah dilengkapi, calon pemilik serta penjual bisa mengunjungi PPAT untuk segera membuat akta jual beli tanah. Tunjukkan dokumen serta surat yang anda siapkan sebelumnya. Berikan juga keterangan terperinci jika memang ada hal yang mesti anda jelaskan kepada PPAT.

PPAT sendiri merupakan pejabat umum yang diangkat oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan bekerja menangani masalah seputar jual beli tanah serta semacamnya.

a. Verifikasi

  1. PPAT akan menguji kebenaran sertifikat ke kantor BPN. Dengan kewenangan yang didasarkan pada pasal 34 PP No. 24 Tahun 1997, lembaga ini akan memeriksa keaslian sertifikat berbekal pada peta pendaftaran. Demikian juga dengan dafar tanah, surat ukur, serta buku tanah.
  2. Urusan berkaitan dengan Pajak Penghasilan (PPh) harus secepat mungkin dibereskan oleh penjual, terutama jika tanah dihargai di atas enam puluh juta rupiah. Pembayaran bisa dilakukan melalui bank yang ditunjuk.
  3. Ada surat kesepakatan yang memberitahukan bahwa setelah tanah berpindah tangan kepada pemilik yang sah, tidak akan ada pengakuan atau klaim tanah melebihi batas yang telah ditentukan.
  4. Keterangan atau pernyataan yang berisi jika tanah bukanlah lahan sengketa.
  5. PPAT akan menolak jual beli tanah yang tersangkut permasalahan.

b. Tahap selanjutnya

  1. Jual beli tanah disertai dengan dua orang yakni penjual dan pembeli dengan surat kuasa tertulis sebagai dokumennya
  2. Sekurang-kurangnya hadir 2 orang saksi di tempat.
  3. Pejabat yang bertugas akan membacakan maksud pembuatan akta
  4. Jika persetujuan antara penjual, pembeli, PPAT, serta saksi-saksi telah menemui titik terang, maka keempat pihak tersebut akan menandatangani kesepakatan yang dibuat.
  5. Dibuat dua akta asli. Satu disimpan di Kantor PPAT dan lebar lain disampaikan ke Kantor BPN untuk keperluan pendaftaran balik nama. Kemudian penjual dan pembeli akan memperoleh salinannya masing-masing.

Selepas urusan di atas beres, Pejabat Pembuat Akta Tanah akan memperlihatkan berkas dan menyampaikan AJB ke kantor BPN untuk proses balik nama. Adapun penyerahan dalam jual beli tanah ini selambat-lambatnya tujuh hari sejak ditandatanganinya akta tersebut.

Untuk berkas yang diperlukan, berikut sederet rinciannya :

  • Surat permohonan balik nama yang dibubuhi dengan paraf dari pembeli.
  • AJB dari PPAT
  • Sertifikat hak bahwa tanah telah terjual
  • KTP pembeli dan penjual
  • Bukti pelunasan pembayaran Pajak Penghasilan (PPh)
  • Tanda telah dilunasinya tanggungan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

Penyerahan dokumen ke BPN akan dibarengi dengan tindakan dari Badan Pertanahan Nasional yang menerima tanda penerimaan permohonan balik nama kepada PPAT dan akan ditujukan kepada pembeli.

Nama pemegang hak lama di dalam buku tanah dan sertifikat akan diganti dengan tinta hitam dan ditandatangani oleh Kepala BPN atau Pejabat yang ditunjuk. Sedangkan pemilik yang baru akan ditulis di halaman yang ada pada buku tanah dan sertifikat ditambah dengan tanggal pencatatan dan disetujui oleh Kepala Kantor BPN atau pejabat yang diberi wewenang.

Anda bisa mengambilnya dalam waktu empat belas hari.